Warga Rohingya di pengungsian, Bangladesh.

Inilah 10 Ancaman Kesehatan Global tahun 2018

Warga Rohingya
Warga Rohingya di pengungsian, Bangladesh.

Tahun 2017 merupakan tahun yang penuh dengan darurat kesehatan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah konflik wilayah, bencana alam, dan penyakit. Tapi pada tahun 2018 ini dikhawatirkan akan lebih buruk daripada tahun sebelumnya jika kita tidak peduli dan mencegahnya pada saat ini. Organisasi kesehatan dunia WHO terus berupaya untuk mengatasi terjangkitnya kembali beberapa penyakit dan keadaan darurat kesehatan lainnya di seluruh dunia pada tahun ini. Namun situasi yang dihadapi oleh organisasi ini yaitu masalah pendanaan yang tidak mencukupi. Krisis ini seyogyanya dapat ditangani karena kebanyakan yang terjadi adalah ulah tangan manusia itu sendiri. Berikut ini adalah ancaman kesehatan yang sedang diteliti oleh WHO saat ini.

1. Flu Global
Influensa menular ini bersifat tak terhindarkan. Dalam dunia ini keterkaitan mewabahnya penyakit ini mengacu kepada “kapan” bukan “jika” dengan penyebaran yang luas. Dampak parah yang dihasilkannya dapat mengakibatkan jutaan orang meninggal dunia dan membinasakan sebanyak 1% GDP. Kita telah mengalaminya sejak ratusan tahun lalu ketika flu Spanyol mematikan 100 juta orang. Pada saat ini kita sudah bisa memahami dan menanggulangi ketika flu ini menyerang. Setiap tahun, WHO menganjurkan sebuah vaksin virus untuk melindungi masyarakat dari flu musiman ini. Lebih dari 150 institusi publik di 110 negara bekerjasama dalam pengawasan dan menanggapi secara global. Namun dari itu flu tidak dapat diprediksi kapan dan dimana akan muncul.

2. Konflik
Konflik terus menerus merusak sistem kesehatan di berbagai negara seperti Yaman hingga ke Ukraina, dan Sudan selatan sampai ke Republik Kongo. Kubu yang saling bermusuhan meningkatkan pengrusakan dan penyerangan terhadap fasilitas kesehatan dan tenaga medis. Di daerah-daerah seperti ini memperlihatkan banyak orang mati karena penyakit daripada terkena sebuah bom atau peluru pistol. Organisasi kemanusiaan selalu tidak mendapat akses masuk untuk menyalurkan bantuan makanan, air dan obat-obatan yang sangat dibutuhkan masyarakat. Serangan kimia dan senjata biologis juga menjadi resiko yang sangat membahayakan dalam situasi perang ini.

3. Kolera
Setelah 2000 tahun semenjak ditemukan oleh Hippokrates, penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini berkembang diberbagai belahan dunia. Walaupun sangat mudah dicegah dan diobati tetapi penyakit ini dapat membunuh orang-orang sebanyak 100.000 jiwa setiap tahunnya di negara-negara miskin yang terjadi konflik. Pada tahun 2017, sebuah vaksin oral kolera dibagikan untuk melindungi sekitar 4,4 juta orang di negara seperti Bangladesh, Kamerun, Haiti, Malawi, Mozambik, Nigeria, Sierra Leone, Somalia dan Sudan Selatan. Di tahun 2018 ini WHO juga melakukan aksi yang sama berbarengan dengan sanitasi dan akses air bersih serta meningkatkan kebersihan lingkungan.

4. Difteri
Meningkatnya penggunaan vaksin difteri merupakan langkah rutin dari bentuk program perlindungan untuk menghindari infeksi penyakit sistem pernafasan di semua negara. Ini merupakan sebuah pertanda akan kembalinya penyakit ini dimana beberapa negara sangat menderita atas ketertinggalan dalam pencegahan dan penyediaan fasilitas kesehatan. Pada tahun 2017 penyakit ini menyerang sejumlah negara seperti Venezuela, Indonesia, Yaman, dan Bangladesh yang membutuhkan pertolongan dari WHO untuk menanggapi dan memberikan panduan teknis serta menyediakan vaksin dan obat-obatan untuk pencegahan penyakit difteri.

5. Malaria
Setiap tahun, WHO selalu memproyeksikan sekitar 200 juta kasus malaria diseluruh dunia dan sekitar 400 ribu kematian. Sekitar 90% kematian disebabkan oleh nyamuk yang terdapat di pedalaman Sahara dan selebihnya terjadi di Asia Tenggara, Amerika Selatan, Pasifik Barat, dan Mediterania Timur. Di pusat Republik Afrika dan Sudan Selatan, malaria menewaskan lebih banyak orang daripada konflik perang. Negara lain yang juga menderita karena malaria adalah Kongo, Nigeria dan Somalia.

6. Bencana Alam
Bencana alam yang berbahaya seperti banjir, angin topan, gempa bumi dan tanah longsor dapat menyebabkan penderitaan dan mengisolasi masyarakat dari akses bantuan kemanusiaan untuk jutaan masyarakat. Pada tahun 2017, topan Harvey, Irma, dan Maria menyebabkan kerusakan luas di Amerika Serikat dan Karibia. Angin muson yang melanda Bangladesh, India, dan Nepal memberikan dampak terhadap lebih dari 40 juta orang menderita. Selain itu banjir lumpur yang terjadi di Sierra Leone menimbulkan kekhawatiran akan terjangkitnya wabah kolera. Bencana kekeringan berakibat terhadap ketahanan pangan dan kekurangan gizi terhadap masyarakat yang disertai ancaman penyakit, serta cuaca panas berlebihan menyebabkan kematian terutama kaum tua.

7. Meningitis
Meningitis mengingokokus C menjalar di wilayah benua Afrika yang menyebabkan ketegangan dikalangan penduduk. Penyakit ini telah mengancam sebanyak 26 negara di Afrika. Dalam skala besar wabah ini sangatlah berbahaya yang dapat menginfeksi sekitar 34 juta warga. Lebih dari 10% penduduk yang terkena penyakit meningitis C berujung kepada kematian. Penduduk yang masih bertahan karena serangan penyakit parah ini selalu bermasalah terhadap neurologi. WHO dan organisasi pendukungnya telah menurunkan sebanyak 2,5 juta dosis vaksin meningitis C dan kemungkinan 10 juta dosis tambahan diperlukan untuk mencegah wabah besar sebelum tahun 2019.

8. Demam Kuning
Satu abad yang lalu, demam kuning menjadi sebuah teror di masyarakat. Menurunkan suatu populasi penduduk dan menghancurkan perekonomian. Setelah kampanye besar-besaran untuk mencegah penyakit ini yang ditandai dengan adanya penurunan jumlah penderita maka pada awal tahun 2000-an kita menyaksikan kembali kebangkitan penyakit ini di Afrika dan Amerika, dimana 40 negara lainnya diyakini juga akan timbul hal yang sama dengan resiko yang lebih tinggi. Pada tahun 2016, demam kuning menjangkiti negara Angola dan Kongo setelah pemfaksinan menjangkau 30 juta lebih penduduk. Pada tahun 2018, Nigeria dan Brazil melakukan pencegahan terhadap penyakit demam kuning diwilayah perkotaan.

9. Malnutrisi
Secara global, 45% kematian anak dibawah usia 5 tahun adalah kekurangan gizi. WHO telah mengembangkan solusi bagi anak kurang gizi dengan bantuan perangkat medis. Kekurangan sumber makanan akan meninggalkan masalah serius dalam perebutan makanan di Afrika pada tahun 2018. Tahun ini di Sudan Selatan diyakini akan ada sekitar 1,1 juta anak dibawah usia 5 tahun yang mengalami penyakit kekurangan gizi dan hampir setengah dari penduduknya menghadapi kerentanan pangan. Di Yaman, 7 juta orang berisiko terhadap kekurangan gizi dan 17 juta warganya mengalami kerentanan pangan.

10. Keracunan Makanan
Setiap tahun, sekitar 600 juta orang dimana 1 dari 10 orang didunia jatuh sakit dan 420 ribu orang meninggal akibat mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi. Afrika Selatan saat ini berjuang terhadap wabah listeriosis terbesar dalam sejarah. Pada tahun 2017, wabah bakteri Salmonella pada susu formula bayi membuat perusahaan Perancis menarik kembali produknya yang tersebar di lebih dari 80 negara didunia.

Seperti dikutip dari laman Medium, di tahun 2018 ini, WHO akan melantukan seboyan “Tanpa Penyesalan” dalam menghadapi krisis kesehatan dunia yang dibekali dengan pengetahuan bahwa wabah tidak bisa kita hindarkan tetapi epidemi dapat dicegah.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *